Pemuda Harus Kritis
Idealisme Merupakan Keistimewaan Terakhir Dimiliki Pemuda

Suara Pemuda, Bangka Belitung – Situasi politik di Bangka Belitung semakin hari semakin tidak menentu, saat masyarakat Bangka Belitung mengharapkan hidup tanpa tekanan dan kepastian, tapi justru para elit politik menunjukkan ketidak arifan nya dalam mengelola tata kepemerintahan yang berasas goodgovernance.
Kondisi ini mewarnai masa depan Babel bahwa negeri serumpun sebalai ini krisis kepemimpinan, yang sebelumnya melalui pemilihan demokratis akan melahirkan pemimpin yang kompeten dan berintegritas tapi justru pandangan ini tidak benar dikarenakan muara politik yang seluruhnya diperankan oleh partai politik tertentu tidak menjamin kaderisasi kepemimpinan seseorang.
Dari mana semua ini harus dimulai tentu dari itikad baik kita semua, terlebih kita yang sedang dimandatkan oleh Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa sebagai pemuda. Yang menjadi pertanyaan ialah Pemuda yang bagaimana ?. Pertanyaan ini jika dilayangkan ke setiap insan pemuda , maka setiap ini itu punya paradigma masing – masing untuk menjawab.
Lantas bagaimana pemuda dalam Islam sejatinya, banyak sejarah Islam menceritakan peran seorang pemuda, salah seorang ialah Al Fatih pemuda berusia 18 tahun pada masanya berhasil menaklukkan Persia. Keyakinan nya akan tauhid dan keteguhannya membela tanah air perpaduan yang sempurna. Sehingga ia menjadi panglima perang saat itu dengan memimpin bala tentara sejumlah 3000 orang.
Masih banyak lagi interpretasi tentang kepemudaan dari sudut pandang yang berbeda – beda. Yang harus kita cermati, bahkan tidak banyak dari kita yang menyadari “kita semua diberikan potensi yang besar “ tapi lagi – lagi potensi ini tidak menemukan jalannya, tidak berkembang bahkan mandul.
Pemuda harus kritis, berani, berintegritas, memiliki keyakinan yang besar atas idealisme, punya pandangan tersendiri. Pemuda sebagai agen kontrol terhadap kebijakan pemerintah, karena setiap huruf dan angka dari kebijakan pemerintahan ialah masa depan Babel, Marwah Babel, legacy Babel.
Elit politik yang bertugas sebagai pemangku pemerintahan dan kebijakan harus logowo menerima kritikan dari pemuda, karena sikap kritis pemuda merupakan bentuk kepeduliannya, jangan diartikan sebagai ancaman politik bentuk provokasi dan intimidasi dengan diancam kembali laporan kepolisian. Karena sikap ini secara tidak langsung mematikan peran kritis pemuda.
Sudah tepat adanya organisasi kepemudaan seperti KNPI, wadah pemupukan nalar kritis pemuda, wadah kaderisasi kepemimpinan, wadah asah logika dan dialektika, agar narasi itu terus terawat rapi. Jika sikap seseorang anti dengan sikap itu, besar kemungkinan ia tidak pernah menjalani hari nya dengan organisasi tetapi terlalu hedonis.
Pesan sederhana dari opini ialah untuk mengingatkan kita sebagai pemuda yang berintegritas yang tidak mandul, dalam artian tidak peduli dengan situasi politik dan ekonomi yang terus berakar menjadi isu sensitif kedaerahan. Semoga ini menjadi cambukan untuk kita supaya selalu dalam konsistensinya sebagai aktor kepemudaan.