ArtikelBeritaBerita PemudaDaerahKNPI BabelOpini

Bangka Belitung Dibaca Lewat Lensa Pesta Babi

Penulis: Ramsyah Al Akhab -Ketua Komunitas Aksara Muda Bangka Belitung

OPINI, SUARAPEMUDA.com – Jika Pesta Babi dibaca sebagai film tentang perampasan ruang hidup masyarakat adat Papua Selatan oleh proyek pangan, sawit, dan tebu, maka Bangka Belitung dapat dibaca sebagai versi lain dari logika yang sama: ruang hidup dikorbankan demi ekstraksi, hanya mediumnya berbeda—di Papua lewat perluasan lahan, di Bangka Belitung lewat tambang timah yang sudah lama membentuk struktur ekonomi dan politik daerah.

Film itu sendiri menyoroti perjuangan Marind, Yei, Awyu, dan Muyu, serta sempat menghadapi intimidasi dan pembubaran pemutaran; fakta ini penting karena menunjukkan bahwa isu ekstraksi bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga soal kuasa atas narasi publik.

Kalau memakai kacamata itu, kondisi Bangka Belitung hari ini tampak paradoksal. Di satu sisi, data BPS (Economic Growth in the Fourth Quarter of 2025 in Kepulauan Bangka Belitung Province) menunjukkan ekonomi provinsi ini tumbuh 4,09 persen pada 2025, dengan PDRB 2024 sebesar Rp116,81 triliun dan PDRB per kapita 2025 sebesar Rp75,32 juta; tingkat kemiskinan September 2025 turun menjadi 4,77 persen dan TPT November 2025 berada di 4,30 persen.

Baca juga  Arah Kebijakan DPD KNPI Bangka Belitung, Setelah Zamzani Terpilih Sebagai Ketua

Di sisi lain, angka-angka makro ini tidak otomatis berarti struktur hidup warga sehat, karena pertumbuhan tersebut tetap bertumpu pada sektor yang sangat rentan terhadap gejolak harga, ketergantungan tambang, dan kerusakan ekologis.

Masalah ekologisnya sangat mirip dengan pesan utama Pesta Babi: ketika tanah diperlakukan sebagai mesin produksi, yang rusak bukan hanya bentang alam, tetapi juga tatanan hidup. ANTARA (Indonesia’s Forestry Ministry to restore 50 ha of ex-tin mining land) melaporkan bahwa lahan bekas tambang timah di Bangka Belitung masih sangat luas, meninggalkan lanskap terdegradasi yang rentan erosi dan kerusakan lingkungan.

Pemerintah memang mulai melakukan rehabilitasi 50 hektare lahan bekas tambang, tetapi langkah ini menunjukkan bahwa kerusakannya sudah telanjur besar. Kajian akademik juga menegaskan bahwa penambangan timah di Bangka Belitung menyebabkan hilangnya habitat, penurunan biodiversitas, deforestasi, dan perubahan fungsi ekosistem, sementara lebih dari 60 persen konsesi berada di area sensitif seperti hutan tropis dan zona pesisir.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button