ArtikelBeritaBerita PemudaDaerahKNPI BabelOpini

Bangka Belitung Dibaca Lewat Lensa Pesta Babi

Penulis: Ramsyah Al Akhab -Ketua Komunitas Aksara Muda Bangka Belitung

Dimensi politisnya juga kuat. Reuters (Tin breaks higher as Indonesia cracks down on illegal miners) melaporkan pemerintah pusat menggelar penertiban besar-besaran terhadap tambang ilegal timah di Bangka dan Belitung, menargetkan penutupan sekitar 1.000 tambang ilegal.

Sumber yang sama menyebut sektor bayangan ini diduga dapat mencapai sekitar 80 persen produksi di Bangka Belitung, sementara PT Timah melaporkan penurunan produksi bijih 32 persen pada paruh pertama 2025. Ini menunjukkan bahwa persoalan Bangka Belitung bukan sekadar “lingkungan rusak”, tetapi juga perebutan kendali atas sumber daya, hukum, dan rente ekonomi.

Di titik ini, perbandingan dengan Pesta Babi menjadi tajam. Dalam film, problem utamanya adalah perampasan tanah adat yang dibungkus bahasa pembangunan; di Bangka Belitung, problem utamanya adalah ketergantungan struktural pada tambang yang membuat batas antara legal dan ilegal menjadi kabur, lalu negara masuk terutama sebagai penertib, bukan sebagai pengubah model ekonomi. Secara analitis, keduanya memperlihatkan pola yang sama: pembangunan dijadikan justifikasi moral, sementara beban ekologis dan sosial dipindahkan ke komunitas lokal.

Tetapi ada juga perbedaan penting. Pesta Babi sangat kental dengan dimensi adat, identitas, dan militarisasi ruang hidup Papua Selatan, sedangkan Bangka Belitung lebih memperlihatkan bentuk ekstraksi yang telah lama terinstitusionalisasi dan dilembagakan dalam ekonomi daerah.

Baca juga  Ketua DPD KNPI Babel, Ajak Pemuda Beltim Melangkah Bersama Lewat Program Inovatif

Studi (Economic Prosperity and Environmental Pressure in the Perspective of Tin Mining in Muntok, West Bangka) menunjukkan bahwa tambang timah memang menyumbang signifikan pada pertumbuhan GRDP dan indikator pembangunan manusia, tetapi manfaatnya tidak merata dan belum cukup menurunkan kemiskinan maupun pengangguran secara substansial; penulis studi itu menyebut pola ini dekat dengan “resource curse”, yakni ketika kekayaan sumber daya justru menghasilkan kerentanan sosial-ekologis jangka panjang.

Kesimpulannya, Bangka Belitung tidak sedang “baik-baik saja” hanya karena angka kemiskinan dan pengangguran relatif rendah (BPS: Profil Kemiskinan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung September 2025). Dibandingkan dengan Pesta Babi, provinsi ini menunjukkan wajah lain dari masalah yang sama: pembangunan ekstraktif yang menghasilkan pertumbuhan, tetapi juga meninggalkan kerusakan, ketergantungan, dan konflik tata kelola. Karena itu, kritik yang paling adil bukan menolak pertumbuhan, melainkan menuntut transisi dari ekonomi tambang yang menguras tanah menuju ekonomi yang lebih beragam, pulih, dan berpihak pada ruang hidup warga.

Laman sebelumnya 1 2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button