ArtikelBeritaDaerahOpini

Ruang Publik, Empati, dan Kedewasaan Demokrasi

Oleh: Ujang Supriyanto Ketua Simpul Babel & Mahasiswa Institut Pahlawan 12

Demokrasi tidak hanya membutuhkan kebebasan berbicara, tetapi juga kebijaksanaan dalam menyampaikan dan menyikapi informasi.
Dalam kajian ilmu politik, kualitas demokrasi tidak semata diukur dari kerasnya oposisi atau ramainya perdebatan publik, melainkan juga dari kemampuan masyarakat menjaga empati di tengah perbedaan pandangan.

Sebab ketika ruang publik kehilangan sensitivitas moral, maka komunikasi politik berpotensi berubah menjadi ruang penghakiman sosial yang tidak lagi mendidik.
Momentum ini seharusnya menjadi refleksi bersama bahwa kehidupan publik dan kehidupan pribadi seorang pemimpin tidak selalu mudah didipisahkan

Tekanan politik, opini masyarakat, dan ujian personal sering kali hadir dalam waktu yang bersamaan. Oleh karena itu, penting bagi seluruh elemen masyarakat untuk membangun budaya komunikasi yang lebih sehat, dewasa, dan beradab.

Baca juga  DPC PERMAHI BABEL GELAR MAPERCA XVI 2025, CETAK KADER HUKUM GEN Z BERINTEGRITAS

Atas nama Ketua Simpul Babel sekaligus mahasiswa Institut Pahlawan 12, saya menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas wafatnya suami Ibu Hellyana. Semoga almarhum diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT, diampuni segala khilafnya, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan.

Pada akhirnya, masyarakat yang maju bukan hanya masyarakat yang aktif menyampaikan kritik, tetapi juga masyarakat yang mampu menjaga empati, menghormati proses, dan menempatkan nilai kemanusiaan di atas kepentingan sesaat.

#Save Bangka Belitung

Laman sebelumnya 1 2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button