
Ketiga, perampingan dan transformasi birokrasi. Bukan sekadar efisiensi anggaran, tetapi perubahan cara kerja. Ukur keberhasilan dari dampak, bukan dari serapan. Kurangi kegiatan seremonial, perbanyak intervensi nyata. ASN harus menjadi problem solver, bukan sekadar pelaksana rutinitas.
Keempat, kejujuran fiskal. Defisit tidak bisa ditutup dengan optimisme semata. Harus ada keberanian memotong belanja yang tidak produktif, meningkatkan PAD secara realistis, dan membuka ruang kolaborasi dengan sektor swasta tanpa mengorbankan kepentingan publik.
Kelima, mengembalikan kepercayaan publik. Ini fondasi yang sering dilupakan. Tanpa trust, kebijakan sebaik apa pun akan ditolak atau diabaikan. Transparansi, partisipasi, dan komunikasi yang jujur harus menjadi standar baru.
Pada akhirnya, usia 260 tahun bukan sekadar angka panjang, ia adalah ujian kedewasaan. Pertanyaannya bukan lagi “apa yang sudah kita capai,” tetapi “apakah kita berani berubah?”
Sungailiat bisa bangkit. Tapi syaratnya jelas, keluar dari zona nyaman, memutus siklus lama, dan membangun masa depan dengan cara yang berbeda. Jika tidak, kita hanya akan terus merayakan usia, tanpa pernah benar-benar bertumbuh.